Minggu, 19 September 2021

Deskripsi diri "Perjuangan dan Doa"

 Hallo... Semuanya

Nama saya Aurora Nur Inayah, lahir di kota Garut pada 18 Desember 2001. Saat ini sedang mengenyam pendidikan di Universitas Siliwangi dengan mengambil program studi Pendidikan Masyarakat. Saya tinggal di sebuah desa yang mayoritas masyarakatnya sangat religius, nama desa ini adalah desa “Putrajawa” atau orang-orang sih sering bilangnya “Lembur Pesantren.” Ya selain karena masyarakatnya yang religius, tentunya di desa Putrajawa ini banyak sekali pesantren di setiap kampungnya, bahkan rumah saya pun dekat dengan salah satu pesantren yang lumayan besar.

Tinggal disebuah desa yang mayoritasnya adalah “santri” tentunya menjadi hal yang membahagiakan bagi saya, dipupuk menjadi perbadi yang lebih baik dalam akhlak adalah sebuah proses yang tidaklah mudah, setiap waktu kami mengaji dan itu sebuah keharusan yang tidak boleh terlewati. Sudah menjadi turun temurun di keluarga kami harus merasakan nikmatnya sebuah “pesantren” seperti ibu saya dulu, beliau duduk di pesantren setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) karena dulu belum diwajibkannya belajar 12 tahun dalam koridor Pendidikan Formal, jadi ibu saya tidak terlalu ambis untuk meneruskan pendidikan formalnya itu, beliau lebih memilih untuk menetap saja di pondok sambil menunggu jodoh , ujar candanya. Tapi berbeda zaman dengan saya saat ini malah kebalikannya , saya tidak terlalu keukeuh untuk mesantren malah lebih tertarik untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, karena kita tahu bahwa terkadang standarisasi untuk bertahan hidup di zaman sekarang harus memiliki lembar ijazah tertulis, jika nantinya ingin mendapatkan sebuah pekerjaan yang layak. Tapi karena sudah seakan wajib, jadi mau tidak mau saya sekolah sambil mondok di pesantren dekat rumah pada saat SMP kelas 2 namun tidak lama hingga sampai lulus SMP saja.

Terlahir dari keluarga sederhana adalah takdir indah yang saya miliki karena dalam keluarga yang seperti ini, saya tahu apa arti “syukur” sebenarnya dan arti perjuangan yang sesungguhnya. Ayah saya hanyalah seorang pedagang, dimana penghasilan sehari-harinya pun tidak menentu, tapi semangat dan jiwa juangnya selalu berhasil membuat saya terharu, sedangkan ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Sejak kecil saya di didik oleh orang tua saya untuk selalu berjuang dalam meraih dan mendapatkan sesuatu, bersabar dalam mendapatkan sesuatu, dan ikhlas dalam menghadapi semua yang terjadi.

Berbicara mengenai perjuangan, tentunya itu bukanlah hal mudah, jatuh bangun dalam perjuangan pun adalah sebuah proses lelah yang berakhir lillah. Dan disini saya akan menceritakan tentang sebuah perjuangan, bukan tentang perjuangan ayah dengan usahanya, bukan pun perjuangan ibu dengan keadaan rumah tangganya, melainkan tentang perjuangan saya dengan kehidupan yang saya pilih dan jalani.

Perjuangan dimana saya bisa meraih sebuah mimpi, mimpi saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu “perkuliahan”.

Tepatnya tahun kemarin, dimulai dari bagaimana saya menentukan jurusan, pada saat itu saya sangat berharap untuk bisa masuk menjadi mahasiswa kampus negeri, karena saya tau jika memilih swasta akan mengeluarkan banyak biaya sedangkan kondisi perekonomian ayah sedang tidak stabil bahkan hampir bangkrut karena adanya pandemic covid-19 ini. Dalam hati, saya sangat ingin masuk jurusan “Ilmu Komunikasi” dimanapun kampusnya karena dari program studi ini banyak sekali yang menjadi tokoh yang cerdas dan sukses dari sana saya sangat terinspirasi. Meskipun saya tau sebenarnya itu semua tidak menjadi jaminan karena pada dasarnya takdir dan nasib kita sudah disiapkan masing masing oleh maha pencipta bahkan dari kita masih dalam kandungan. Dan saya juga sadar tangan tak sampai, dalam universitas negeri prodi “ilmu komunikasi” ini sangat selektif sekali memilih mahasiswanya, jika memilih kampus swasta, baru melihat rincian biayanya pun sudah menghela nafas karena melihat kondisi perekonomian ayah saat itu sedang turun sekali. Bahkan ibu saya sampai bilanng seperti ini “nak, kalau gak kuliah pun gak papa ya” nyesek pasti, bingung apalagi.

Akan tetapi saya bertekad saya harus kuliah pada tahun itu, bagaimanapun caranya. Setelah itu, diam diam tanpa sepengetahuan ayah dan ibu saya mengikuti tes jalur raport pada sebuah kampus negeri melalui SNMPTN yang diselenggarakan oleh LTMPT meskipun test nya gratis dan sudah ditanggung oleh pemerintah akan tetapi tetap saja perihal biaya nantinya tetap dari pihak kita, maka dari itu ibu saya kurang menyetujui saya daftar test tersebut, dalam test tersebut saya mencantumkan kampus “Universitas Pendidikan Indonesia”. Menurut logika, pilihan itu sudah sangat selaras dengan nilai rata rata raport saya dengan yang biasanya diterima, karena memang Alhamdulillah nya saya selalu masuk 5 besar umum di sekolah. Akan tetapi entah kenapa , hasil malah menyatakan saya tidak lulus pada test tersebut, disitu down,galau,nangis karena kenapa warna merah yang muncul dan menunjukan bahwa saya belum ditakdirkan menjadi seorang mahasiwa ,ketakutan ketakutan pun muncul , takut gabisa kuliah, takut gabisa membahagiakan orang tua, takut nantinya akan jadi pengangguran yang malah menjadi beban keluarga, akan tetapi saya teringat bahwa masih ada 1 kesempatan lagi jalur test yang diadakan oleh LTMPT yaitu SBMPTN berbeda dengan test sebelumnya yang hanya menggunakan nilai raport, sedangkan test yang kedua ini sistem nya hampir sama seperti Ujian Nasional jadi kita memang harus “berjuang” disana. Karena hasil test raport kemarin tidak sesuai ekspektasi saya sempat menyerah bahkan saya sudah tidak mengharapkan kuliah, Untungnya dikarenakan adanya pandemi ini jadwal test nya yang awalnya akan dilaksanakan 1 bulan yang akan datang kemudian di mundurkan jadi 3 bulan lagi, ketika ltmpt mengumumkan bahwa jadwalnya di mundurkan baru lah saya berpikir “Coba dulu aja” , Barulah disana saya mulai “berjuang” yang benar benar “berjuang” saya mencari informasi mengenai soal soal yang akan digunakan pada test, kemudian mencari opsi 2 selain program studi yang pertama, juga saya coba coba mencari informasi tentang beasiswa karena pada kesempatan kedua ini benar benar ingin saya manfaatkan bahkan ingin membantu orang tua.

Dalam hal belajar untuk persiapan test biasanya saya menghafal materi di jam 21.00-22.00 karena pada waktu itu suasananya selalu tenang, tidak lupa di test yang kedua ini saya meminta izin dan doa pada orang tua agar semuanya berjalan lancar, saya tidak ingin kesempatan ini sia sia, dan entah kenapa saya nyletuk tanpa sadar “ayah dan ibu tidak perlu khawatir masalah biaya , karena saya yakin bahwa rezeki tiap-tiap orang itu memang sudah di atur dengan sangat tepat” saat itu juga saya mencoba mendaftarkan diri pada salah satu beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah, katanya hasil akan dikirimkan beserta kelulusan test sbmptn atau test yang kedua itu.

Singkat cerita , entah kenapa pas hari itu, mungkin karena dari orang tua yang memilih “Universitas Siliwangi” prodi Pendidikan Masyarakat untuk ditempatkan di pilihan kedua padahal saya , dan saya iya kan bismillah mudah mudahan memang ini rizkinya. Pas hari H finalisasi data refleks saya menukarkan posisinya,kemudian hari yang dinantikan tiba , saya melakukan test di antar oleh kedua orang tua dan Alhamdulillah pada pengumuman hasil akhirnya saya di nyatakan “Lulus” + penerima beasiswa di program studi pilihan pertama.

Mungkin hikmah yang saya dapatkan dari kejadian itu adalah, restu orang tua adalah kunci utama , jika kalian ingin atau akan melakukan apapun hal baik sekecil apapun jangan lupa minta doa dari orang tua, karena doa mereka itu sangat kuat sekali, bahkan tertera dalam hadits yaitu :

“Ridho Allah itu tergantung ridho kedua orang tua dan murka Allah juga tergantung kepada murka kedua orangtua” (HR. Tirmidzi).

Sekian cerita singkat mengenai “perjuangan” yang saya alami, mudah mudahan apa yang saya tulis dapat bermanfaat dan menjadi sebuah motivasi untuk kalian semuanya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar